Gaza Jurubicara Fraksi Hamas di Parlemen, Dr. Shaleh Bardawel menyebut pernyataan Tzepi Levni, ketua Partai Kadima Israel yang baru, yang menganggap al Quds sebagai “ibukota abadi Israel” mencerminkan pemikiran radikal Israel yang tidak meyakini perdamaian, yang hanya meyakini hegemoni serta perampasan tanah dan tempat-tempat suci.

Bardawel mengatakan, “Ini mengungkap kepada kita hakikat apa yang terjadi dalam perundingan sia-sia yang dilaksanakan secara rahasia dan terang-terangan.” Dia menilai itu adalah “perundingan yang mandul. Pernyataan itu membuktikan kekacauan cara pandang yang selalu kita bicarakan, yaitu bahwa Israel yang perampas itu tidak menginginkan perdamaian namun yang terjadi di balik perundingan sia-sia itu adalah yang terjadi di balik fatamorgana, tidak lebih dan tidak kurang.”

Petinggi Hamas ini menyatakan, “Yang harus dilakukan umat Arab dan Islam adalah naik ke level perlawanan dan berpihak kepada bangsa Palestina dan hak-haknya dalam menghadapi penjajah Israel, seraya mengucilkan orang-orang yang menyerahkan segalanya pada pilihan perundingan yang mandul. Dan waspada bahwa di sana ada bangsa yang melawan masih hidup membutuhkan dukungan daripada tekanan dan blokade sebagaimana yang terjadi di Jalur Gaza.”

Bardawel mengatakan, “Saya yakin realisasinya banyak dan bahayanya banyak sekali. Tidak ada pilihan di hadapan kita kecuali penyatuan upaya demi menghadapi musuh dengan cara yang sama yang digunakan untuk menduduki tanah dan tempat-tempat suci.”

Menteri Luar Negeri Israel, Tzepi Levni, yang menjadi ketua partai Kadima yang baru, menegaskan kepada harian Israel Ma’arev, Kamis (18/09) pagi, bahwa al Quds “akan tetap utuh menjadi ibukota abadi bagi Israel”.[adm/infopalestina]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts