Syeikh Dr. Nashr Farid Washil nyatakan bahwa mereka yang boleh berfatwa minimal memiliki gelar doktor. Tidak semua boleh berfatwa

Mantan Mufti Mesir, Syeikh Dr. Nashr Farid Washil menyatakan bahwa Dr. Nashr Farid Washildirinya tidak terima bahwa pengikut Salaf hanya terbatas kelompok tertentu saja. Dan perlunya membedakan antara da’i dan mufti.

”Saya menolak sifat salafi hanya pada satu kelompok orang mukmin,” ucap salah satu ulama Al Azhar ini.

Lantas, siapa yang bisa disebut salafi? Syeikh Nashr mengatakan, ”Salafi menurut saya, adalah mereka yang berpegang dengan Al-Quran dan As Sunnah. Maka kita semua adalah salafi,” lanjutnya.

Ungkapan di atas keluar dari Syeikh Nashr, setelah islamonline. net bertanya, apakah kelompok Salafi, memungkinkan untuk ikut serta memberikan fatwa di Mesir.

Beliau lantas mengatakan, bahwa dirinya menolak, mereka yang tidak memiliki keahlian dalam berfatwa ikut serta mengeluarkan fatwa dalam masalah yang bersangkutan masalah umat Islam atau urusan umum.

Beliau memandang bahwa minimal, mereka yang sudah memperolah gelar doktor yang memiliki kemampuan menelaah kitab-kitab klasik dan sekaligus memahami fiqh al waqi’. Sehingga mereka yang masih bergelar lisence atau master, atau bahkan doktoral belum mampu memiliki kemampuan ini.

Disamping itu, beliau menegaskan bahwa ada perbedaan jelas antara da’i dan mufti. Mufti bisa menjadi da’i sedankan da’i sendiri belum tentu mufti, hingga mereka tidak boleh diperlakukan sebagaimana mufti yang menjadi sandaran untuk menanyakan masalah-masalah syariat.

Sebagaimana diketahui, bahwa parlemen Mesir saat ini tengah mendiskusikan kemungkinan dibentuknya peraturan, siapa yang layak untuk berfatwa, sekaligus hukuman bagi mereka yang nekat berfatwa akan tetapi belum atau tidak memenuhi syarat sebagai mufti. [adm/hidayatullah]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts