"Isa 'alaihi as-salaam telah wafat di persembunyiannya," ujar Sekjen Partai Konferensi Rakyat ( partai oposisi Sudan) Dr Hasan Turabi. Tak pelak, pendapat oposan Sudan itu menyulut keriuhan di gedung tempat berlangsungnya diskusi yang mengambil tema 'Fiqih Islam antara Taklid dan Pembaharuan.'

Keriuhan peserta diskusi itu terjadi pada Selasa (28/4) di Fakultas Ilmu Matematika Universitas Khartum, Sudan. Mereka menilai bahwa pendapat Turabi bertolak belakang dengan Al-Qur'an yang mengatakan "...mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan kepada mereka...".

Namun, Turabi tetap kukuh pada pendiriannya bahwa Isa 'alaihi as-salaam telah wafat di persembunyiannya, sementara orang-orang Islam dan Kristen terus menantikannya. Demikian seperti diberitakan IslamOnLine, Rabu (29/4).

Keriuhan peserta kian memuncak tatkala Turabi menyampaikan pandangan-pandangannya dengan nada keheranan. Bahkan beberapa peserta diskusi menuduh Turabi sebagai orang Zindiq (kafir).

Terkait Nabi Isa itu, Turabi mengatakan, "Orang Islam mengatakan kepada Anda, "Saya adalah raja, dan raja telah lama mati". Mereka mengatakan,"Saya Asy'ariy dalam akidah saya, dan Asy'ariy bukanlah seorang pembaharu yang hidup baru-baru ini. Kita terpaku ke belakang, padahal Akhirat itu di depan."

Lebih jauh Turabi menolak keras sikap ummat Islam yang selalu merujuk kepada salafu shaalih (pendahulu yang saleh). "Kita sekarang ini cenderung mengkultuskan salafus shaalihiin. Orang terdahulu bagi kita selalu saja saleh, meski sejarah kita kelam."

Kritikan jebolan Universitas Sorbonne Prancis itu terus mengalir. "Menurut kita para sahabat itu semuanya di surga, sedangkan Abu Hurairah, sekadar contoh, mulutnya tidak pernah melontarkan periwayatan satu hadits pun kecuali setelah Umar bin Khatab wafat," terang Turabi sembari menambahkan bahwa Umar pernah melarang Abu Hurairah meriwayatkan hadits-hadits aneh.

Pemikir Sudan kelahiran 1933 itu kembali menegaskan fatwanya ihwal bolehnya perempuan menjadi pemimpin jika memang ia paling berilmu. Bahkan Turabi memastikan bahwa para ulama fiqih telah melakukan penipuan terkait fatwa kepemimpinan wanita dengan hadits-hadits.

Pada diskusi itu Turabi juga mengemukakan konsep murtad, yang menurutnya murtad itu bukan keluar dari Islam, tapi mundur ke belakang. Sebelumnya, Turabi menolak keras untuk menyebut Yahudi dan Nasrani sebagai orang kafir. Menurutnya, Yahudi dan Nasrani itu sebagai orang beriman, yang sejatinya ummat manusia membentuk front orang-orang beriman kontra ateisme internasional.

Untuk diketahui, gagasan-gagasan kontroversional Turabi itu bukan baru-baru ini saja. Sebelumnya ia pernah membolehkan seorang Muslimah menikah dengan laki-laki Ahli Kitab, membolehkan wanita mengimami jamaah laki-laki, menyamakan jumlah saksi antara wanita dan laki-laki, membolehkan minuman keras tapi mengharamkan mabuk, mengingkari turunnya Nabi Isa, dan tidak percaya adanya bidadari di surga. Tak pelak, gagasan-gagasan yang tak lazim itu memicu para ulama Sudan untuk mencapnya sebagai orang kafir. [adm/warnaislam]

1Komentar

  1. waduh kok komentarnya Hasan Turabi seperti itu yakch. ya kalo bener ngomong gitu, berarti dah nganeh or nyeleneh. karena pendapatnya berbeda dengan isi alquran. Sori kebetulan lupa ayatnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts