Ia Muslimah Pakistan pertama berhak menyandang gelar valedictorian (lulusan terbaik) dari New York City College of Technology.

"Saya ingin membantu mewujudkan perdamaian dan keharmonisan di dunia," kata Ayesha Siddiqui, yang bangga menjadi seorang Muslim Amerika, Pakistan-Amerika dan penduduk New York. "Saya pernah tinggal di Timur Tengah dan di sini; saya merasa bisa menjadi jembatan bagi berbagai kepercayaan dan budaya yang berbeda.

Menurut orang lain, ini mungkin kedengarannya seperti mimpi yang muluk. Siddiqui, 34 tahun, seorang wanita yang menikah, ibu dari dua putra, sepertinya mematahkan segala rintangan kemana pun ia pergi. Ia menjadi Muslimah Pakistan pertama yang berhak menyandang gelar valedictorian (lulusan terbaik) tahun 2009 dari New York City College of Technology (City Tech). Dengan demikian ia mencatatkan dirinya dalam sejarah perguruan tinggi itu.

"Saya selalu memakai hijab, kerudung penutup kepala yang dipakai Muslimah," katanya bercerita. "Orang-orang yang saya temui bertanya tentang banyak hal yang selalu saya jawab dengan senang hati, seperti 'Bagaimana bisa kamu pergi bersekolah sementara kamu punya suami dan anak-anak?' 'Bagaimana bisa kamu berbicara dengan mahasiswa laki-laki?' dan 'Benarkah Islam isinya hanya tentang membunuh orang lain?'

"Saya tekankan bahwa agama saya tidak picik," lanjut ceritanya. "Suami mendukung saya sepenuhnya untuk kuliah dan memiliki karir. Wanita bisa bercakap-cakap dengan laki-laki yang bukan keluarganya. Dan, Islam adalah agama damai, kami tidak mudah memaafkan pembunuhan."

Ketika ia berusia 6 tahun, keluarganya pindah dari Karachi ke sebuah kota kecil di Oman. Selain orang Oman, tidak ada yang boleh kuliah di sana. Maka dengan menghabiskan banyak dana, Siddiqui yang sekarang menetap di daerah Bensonhurst kota Brooklyn, dikirim kembali ke Pakistan untuk sekolah. Ayahnya selalu mendukungnya dalam hal pendidikan dan ia sendiri tidak pernah mengecewakan ayahnya. Ia selalu menjadi siswa terbaik di setiap kelas dari sekolah di mana ia belajar.

"Ayah selalu berkata bahwa saya adalah 'harta simpanannya' dalam kehidupan ketika saya khawatir mengenai biaya sekolah," kenangnya. "Beliau bilang bahwa pendidikan adalah cara yang baik untuk membelanjakan uang."

Oleh karena itu tidaklah mengangetkan, ketika Siddiqui -- sulung dari 5 bersaudara, berminat untuk menjadi diplomat ketika ia lulus sebagai sarjana muda bidang politik dari Universitas Karachi tahun 1996. "Saya ingin meraih gelas master di bidang komunikasi massa dan mewakili negara saya sebagai seorang dutabesar," katanya.

Ketika ia belajar untuk mempersiapkan diri ikut ujian PNS di Pakistan, ia menikah. Suaminya yang dibesarkan di Karachi dan meraih gelar master di bidang teknologi kedokteran dari Universitas St. John di Queens, mengajukan imigrasi untuk dirinya. Seharusnya proses imigrasinya tidak lebih dari sepuluh bulan, namun ternyata sampai 3 1/2 tahun. Akhirnya ia tiba di New York pada tahun 2000.

Sebelum menikah, suami Siddiqui bilang ia akan menyekolahkannya di sini. Namun, sebelum tahun 2002 ia sudah memiliki dua orang putra dan berpikir hal itu tidak mungkin lagi. Dua tahun kemudian suaminya mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan.

"Ia meyakinkan saya untuk kuliah lagi. Mendapat kesempatan kedua untuk belajar dan berkarir, saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda."

Siddiqui yang pernah tergabung dalam tim debat di sekolahnya ketika di Oman, yang dulu sering menyanyi, berakting dan menjadi pembawa acara di sana, selalu menyukai menggambar dan membuat kartu ucapan untuk teman dan keluarga dan juga membuat poster untuk kegiatan sekolah. Mengingat hal ini, ia memutuskan untuk meraih gelar di bidang desain grafis.

"Saya menyukainya sejak hari pertama masuk dan yakin bahwa itu hal yang tepat untuk saya," katanya. "Saya sangat percaya bahwa komunikasi visual yang efektif dapat menyelesaikan masalah dan konflik. Desainer grafis memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat karena desain merupakan bahasa universal -- ia dapat berbicara kepada banyak orang."

Siddiqui bekerja keras dan meraih gelar diplomanya dari Kingsborough Community College dalam waktu satu tahun dengan indeks prestasi 3,97. Ia menyelesaikan kuliahnya untuk meraih gelar sarjana muda dalam bidang desain komunikasi di City Tech dalam waktu dua tahun. Dan menjadi mahasiswa jurusan seni desain dan grafis iklan pertama yang berhak menyandang gelar valedictorian sepanjang sejarah City Tech.

Selama masa studi, seluruh keluarganya di Pakistan -- orangtua, keluarga suami, saudara kandung -- mendukungnya penuh untuk kuliah. Ibu mertuanya yang berusia 70 tahun, sering berkunjung untuk membantu. Namun, menyerahkan sepenuhnya kepada dirinya dan suami untuk mengatur semua hal agar bisa berjalan baik.

"Saya dan suami tidak memiliki saudara di sini, jadi kami harus benar-benar bekerja sama untuk mengatur jadwal. Ia bekerja di waktu malam -- 11.30 malam hingga 7.30 pagi -- sebagai seorang teknisi khusus di bank darah Maimonides Medical Center. Dan ia juga bekerja di akhir pekan. Itu mengapa kami memiliki dana untuk biaya kuliah saya. Ia juga bisa berada di rumah mengurus anak-anak sementara saya sekolah," katanya menjelaskan.

"Saya memasak untuk keluarga setiap hari," katanya menambahkan. "Ketika tugas-tugas utama saya selesai pukul 9 atau 9.30 malam, saya mulai mengerjakan pekerjaan rumah, seringkali hingga larut malam. Kemudian saya bangun pagi pukul 6 dan mulai lagi."

Sekolahnya hampir saja terbengkalai saat musim gugur, ketika ayahnya wafat di Islamabad, tempat di mana orangtuanya tinggal setelah ayahnya pensiun.

"Saya sangat kehilangan, dan berpikir untuk menyerah," katanya. "Kemudian saya merasakan kehadiran ayah dan kata-katanya, 'Aku membesarkanmu untuk menjadi seorang wanita yang kuat. Kembalilah dan fokus. Temukan kekuatanmu.' Dan saya melakukannya."

"Dengan keluar dari kesedihan, saya merasa menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan itu pesan yang ingin saya sampaikan kepada para wisudawan," lanjut Siddiqui, yang akan menyampaikan pidatonya sebagai valedictorian di City Tech pada tanggal 1 Juni yang diselengarakan di teater WaMu di Madison Square Garden. "Temukan kekuatanmu dalam kelemahanmu dan ingatlah tidak ada manusia yang sempurna. Perlakukanlah setiap orang dengan hormat."

Selama tugas prakteknya di Women's Press Collective, Siddiqui menemukan jalur profesinya; ia ingin menjadi seorang desainer grafis untuk organisasi nirlaba. "Saya belajar banyak di sana. Khususnya bagaimana bertahan dengan sumber daya terbatas." [Catatan: kunjungi www.ayeshadesign.com untuk melihat website Siddiqui yang masih dibangun.]

Siddiqui, yang meraih nilai rata-rata kelulusan 3,98 dari nilai tertinggi 4 di City Tech, rindu ingin menelepon ayahnya untuk menyampaikan berita kelulusannya. Namun, kematian ayah justru membuatnya sadar betapa besar dukungan suami, anak-anak dan ibu mertua yang telah diberikan kepadanya.

"Putra-putra saya sangat bangga terhadap saya. Ketika saya hanya mendapatkan nilai A-minus, si sulung ingin tahu kenapa, apa yang salah. Keduanya menaruh harapan yang sangat tinggi kepada saya. Kadang suami mengingatkan saya agar tidak terlalu memaksakan diri. Tapi saya bilang; tidak, saya harus melakukan hal yang terbaik." Dan ia berhasil.

New York City College of Technology (City Tech) bagian dari The City University of New York (CUNY), adalah perguruan tinggi umum teknologi terbesar di negara bagian New York. Terletak di Jalan Jay nomor 300 di pusat kota Brooklyn. Perguruan tinggi ini memiliki 14.000 mahasiswa di 60 program pendidikan sarjana muda, diploma dan program khusus bersertifikat. [adm/hidayatullah]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts