Rencana Inggris menarik pasukannya dari Irak, menimbulkan kekhawatiran sejumlah warga Irak yang selama ini bekerja pada pasukan koalisi. Kebanyakan, mereka bekerja sebagai penerjemah pada pasukan Inggris yang berbasis di kota Basra, Irak selatan.

Warga Irak itu mengaku hidupnya terancam karena diketahui bekerja untuk pasukan musuh. Sebut saja Ali, yang sudah hampir setahun ini bekerja pada pasukan Inggris di Basra, kini sedang berusaha mencari suaka ke Inggris karena hidupnya di Irak tidak aman lagi.

"Hidup saya berantakan. Sekarang pun saya hidup dalam persembunyian. Saya sudah minta agar dibawa kemana saja di dunia, asal jauh dari sini," kata Ali, nama samaran, pada BBC.

Ali masih menunggu proses agar bisa mendapatkan suaka ke Inggris, dibawah skema perlindungan khusus yang diterapkan sejak akhir tahun 2007 lalu. Skema ini dibuat setelah pemerintah Inggris didesak untuk memenuhi kewajiban moralnya terhadap warga Irak yang telah mempertaruhkan hidupnya selama bekerja pada pasukan Inggris di Irak,

Sejak skema itu diberlakukan, rombongan pertama penerjemah Irak dan keluarganya tiba di Inggris pada bulan April 2008. Menurut kementerian dalam negeri Inggris, Inggris sedikitnya sudah menampun sekitar 350 warga Irak yang pernah bekerja pada pasukan Inggris dan saat ini masih ada lebih dari 550 orang warga Irak yang mengukan aplikasi penampungan atau yang aplikasinya sudah diterima dan tinggal menunggu diberangkatkan ke Inggris.

Salah seorang warga Irak yang sekarang sudah berada di Inggris lewat skema perlindungan adalah Mohammad, juga nama samaran, yang masih berusia 27 tahun. Ketika masih di Irak, Mohammad juga bekerja sebagai interpreter bagi pasukan Inggris.

"Awalnya, saya aman-aman saja. Tidak ada masalah dengan para milisi di Irak. Tapi keadaannya menjadi makin bahaya sejak tahun 2005. Bulan Februari 2007, saya mendapatkan sms berisi ancaman yang bunyinya jika saya tidak berhenti bekerja pada pasukan Inggris, saya akan mati," ungkap Mohammad.

"Pasukan Inggris bilang bahwa mereka tidak bisa memberikan perlindungan, sehingga saya memilih mengungsi. Empat bulan kemudian, salah seorang kolega saya terbunu dan dua bulan setelah itu, kolega saya yang lain juga dibunuh," tutur Mohammad.

Ia lalu mendengar berita tentang skema perlindungan. Mohammad mengajukan permohonan lewat internet dan aplikasinya diterima pada bulan Desember 2007. Ia tiba di Inggris pada bulan November 2008 dan ditempatkan di Bolton.

"Tentu saja saya merasa aman sekarang. Tapi saya sangat, sangat kecewa karena saya pikir saya mendapatkan hidup yang layak di sini," ujar Mohammad.

"Saya tidak puas dengan pihak yang mengurus skema ini. Mereka menempatkan kami dan menganggap apa yang telah kami kerjakan buat mereka di Irak, tidak ada nilainya. Saya bekerja pada pasukan Inggris selama tiga tahun dan mempertaruhkan nyawa saya, tapi saya diperlakukan seperti para pencari suaka lainnya," keluh Mohammad.

Perlindungan Tak Maksimal

Birokrasi panjang dan berbagai pembatasan yang diberlakukan dalam skema perlindungan itu sendiri, dikritik oleh kalangan tentara Inggris. "Saya kecewa, mengapa begitu lama untuk membuat skema ini dan banyak sekali kendala yang harus dilalui bagi mereka yang mengajukan aplikasi," kata Doug Young dari Federasi Pasukan Militer Inggris.

Skema ini misalnya, mensyaratkan minimal 12 bulan masa kerja pada pasukan Inggris. Akibatnya, aplikasi warga Irak yang bekerja kurang dari 12 bulan tidak diterima, padahal hidup warga Irak itu terancam karena ketahuan bekerja pada pasukan Inggris.

Kritik juga disampaikan Tom Porteous dari organisasi HAM, Human Rights Watch. "Menurut kami, skema perlindungan ini harus diberikan karena resiko yang dihadapi seseorang," kata Porteous.

Tapi pemerintah Inggris berdalih bahwa mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka terhadap warga Irak yang hidupnya terancam karena pernah bekerja pada pasukan Inggris. "Pemerintah sudah menunjukkan niat baiknya dengan memberikan perlindungan serta bantuan bagi para pengungsi dan staff pemerintahan Irak yang sudah bekerja pada pasukan Inggris dalam menghadapi masa-masa sulit," kata jubir kementerian dalam negeri Inggris.

Daniel Leader dari kantor pengacara Leigh Day yang mendampingi para mantan penerjemah Irak yang meminta perlindungan Inggris menyatakan, apa yang dilakukan pemerintah Inggris dalam memenuhi kewajibanya terhadap para mantan penerjemah itu belum maksimal.

"Saya mewawancari banyak penerjemah, warga Irak yang berhasil menyelamatkan diri ke Suriah. Saya duduk dengan para lelaki dewasa Irak yang berwibawa, mereka menangis di hadapan saya, beberapa diantaranya mengalami trauma akibat pengamalan buruk yang dialaminya gara-gara bekerja pada militer Inggris," papar Leader.

Warga Irak yang pernah bekerja sebagai penerjemah pada pasukan Inggris, bukan hanya menjadi sasaran ancaman para milisi di Irak karena dianggap bekerja pada pasukan musuh, tapi juga mendapat ancaman dari aparat kepolisian Irak.

Muhammad bercerita, beberapa koleganya yang pernah bekerja pada pasukan Inggris dan kembali ke Basra bulan April kemarin, ternyata ditangkap oleh polisi Irak.

Peristiwa ini mengundang keprihatinan Alan Wheatley, Sekjen organisasi Institut Penerjemahan dan Interpretasi. "Saya mengkhawatirkan nasib sekitar 250 penerjemah dan anggota keluarganya. Mereka pernah bekerja di garis depan dan dimanfaatkan keahliannya, tapi karena berbagai alasan, mereka dinyatakan tidak memenuhi persyaratan untuk tinggal di Inggris," ujar Wheatley.

Menurut Wheatley, nasib serupa juga dialami warga Afghanistan yang juga bekerja sebagai penerjemah pada pasukan asing di negeri itu. "Saya tidak tahu, apakah ada skema lain yang lebih baik untuk melindungi warga lokal yang pernah bekerja pada pasukan asing, dan kini hidup mereka terancam," tukasnya. [adm/eramuslim]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts