Sebelumnya para petugas Kementerian di Mesir berkeyakinan bahwa memakai cadar adalah kewajiban, kini pandangan itu sudah berubah

Tiga Pegawai Kementerian Perwakafan Mesir melepas cadar yang mereka pakai, setelah diadakan pertemuan guna membahas hukum memakai penutup wajah.

Dr. Salim Abdul Jalil, wakil dari Kementerian Perwakafan untuk Urusan Dakwah menyebutkan bahwa beberapa pertemuan yang diadakan pihak Kementerian dengan para petugas yang memakai cadar, telah terlihat hasilnya, dengan adanya 3 petugas yang melepas cadar yang biasa mereka pakai.

Abdul Jalil mengatakan, kepada para pemakai cadar ia menyampaikan bahwa para ulama madzhab 4 sepakat bahwa wajah bukan aurat, dan pemakaian cadar tidak memiliki dasar dalam agama.

“Penjelasan ini ternyata membekas dalam diri mereka, hingga salah satu dari mereka melepas cadar, sebelum pertemuan ke dua, adapun kedua petugas lain telah melepas cadar setelah pertemuan ke dua.”

Ia menegaskan bahwa dalam instansinya ada 13 petugas yang masih memakai cadar. Mereka menerima kalau hukum memakai cadar tidak wajib, akan tetapi mereka tetap memakai, karena sudah puluhan tahun terbiasa dengan pakaian tersebut, hingga merasa kurang nyaman jika harus melepasnya.

Abdul Jalil pun menyatakan bahwa pakaian Muslimah wajib menutup semua anggota badan, kecuali wajah dan dua telapak tangan, serta tidak memperlihatkan bentuk tubuh atau transparan. Kewajiban bagi wanita membuka wajahnya di saat umrah dan haji di hadapan jutaan orang, menegaskan tidak disyariatkannya cadar.

Kampanye “Anti Cadar”

Kementerian Perwakafan untuk Urusan Dakwah Mesir memang melakukan kampanye bahwa cadar penutup wajah pada wanita dalam Islam bukanlah suatu kewajiban, dan mendorong mereka untuk tidak memakainya.

Para penentang kampanye menyatakan bahwa kantor Kementerian berusaha untuk melepaskan cadar di Mesir karena mendapat tekanan dari dalam dan luar, untuk mengikuti standar negara-negara Barat.

"Yang terjadi di Mesir adalah hukum yang menurut pada pemerintah AS," ujar ulama Syeikh Yusuf al-Badry kepada harian Abu Dhabi, The National. "Sedang diwujudkan dan ditegakkan dalam semua aspek kehidupan bahwa cadar adalah bukan sebuah kewajiban. Mereka tidak menginginkan cadar karena mereka ingin menyebarkan pelacuran dan nafsu yang haram sehingga masyarakat akan kacau."

Kampanye oleh Kementerian yang dimulai tahun lalu dengan menyebarkan buku kecil ke 50.000 masjid yang dikelola negara di penjuru negeri, belum diterima dengan baik oleh sebagian wanita yang merasa hak pribadinya sedang dilanggar.

"Saya mengenakan cadar karena cinta kepada Allah dan ingin menyenangkan-Nya. Saya diajarkan bahwa tubuh seorang Muslimah adalah aurat yang harus ditutupi," demikian The National, mengutip perkataan Hoda al Bendari, 39 tahun.

"Tidak buku dan juga tidak presiden yang bisa meyakinkan saya untuk melepas cadar, yang hanya akan saya lepas ketika saya mati," kata Bendari yang telah 3 tahun bercadar dan bekerja sebagai perawat kuku untuk wanita-wanita yang berkerudung.

Para pendukung gagasan pemerintah menekankan bahwa seorang wanita Muslim hanya diwajibkan untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan, dengan pakaian yang tidak ketat dan transparan.

"Fakta bahwa wanita membuka wajahnya dalam prosesi ibadah haji menunjukkan bahwasanya cadar tidak wajib," kata Abdul Jalil sambil mengutip pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.

"Ada sebuah konsensus di kalangan ahli hukum Islam bahwa menutup wajah tidak wajib," katanya, seraya menekankan hanya lembaga yang berwenang yang dapat mengeluarkan fatwa atau aturan agama, dan dai-dai "amatir" di televisi yang banyak dilihat oleh kaum wanita tidak termasuk di dalamnya. [adm/hidayatullah]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya

Recent Posts